Holding UMKM Coffee Shop di Solo Disiapkan untuk Jaga Harga Biji Kopi dan Tekan Inflasi
Jumat, 9 Januari 2026 | 13:00 WIB

LINK UMKM - Pemerintah Kota Solo tengah menyiapkan skema holding usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) coffee shop sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas harga biji kopi yang belakangan dinilai memberi tekanan terhadap inflasi daerah. Gagasan tersebut muncul seiring pesatnya pertumbuhan kedai kopi di Solo yang mendorong lonjakan permintaan bahan baku, terutama biji kopi dan produk pendukung lainnya.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyampaikan bahwa sektor coffee shop saat ini berkembang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi dan pariwisata kota. Namun, pertumbuhan tersebut dinilai membawa konsekuensi pada sisi pasokan. Permintaan yang tinggi, terutama pada periode libur akhir tahun 2025, disebut telah menyebabkan kenaikan harga dan bahkan kelangkaan biji kopi serta susu di pasar lokal. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah daerah merancang intervensi berbasis penguatan kelembagaan UMKM.
Melalui konsep holding, pelaku UMKM coffee shop, khususnya yang memiliki fasilitas pengolahan atau roastery, direncanakan akan dihimpun dalam satu ekosistem bersama. Skema ini diarahkan untuk memperkuat posisi tawar pelaku usaha dalam pengadaan bahan baku, sekaligus menciptakan mekanisme distribusi yang lebih efisien. Dengan cara tersebut, pemerintah berharap fluktuasi harga biji kopi dapat ditekan dan dampaknya terhadap inflasi dapat diminimalkan.
Respati menilai, kehadiran pemerintah dalam skema ini bukan untuk mengendalikan pasar secara langsung, melainkan memastikan stabilitas pasokan dan harga bahan baku strategis bagi UMKM. Intervensi tersebut juga diposisikan sebagai bentuk perlindungan terhadap keberlanjutan usaha pelaku coffee shop yang kini menjadi salah satu ikon gaya hidup dan destinasi wisata baru di Solo. Kedai kopi dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat konsumsi, tetapi juga ruang sosial yang menarik minat wisatawan.
Selain penguatan internal UMKM, pemerintah kota juga menjajaki kerja sama antardaerah dengan wilayah penghasil kopi. Langkah ini dipandang penting untuk membangun rantai pasok yang lebih terjamin dan berkelanjutan. Dengan adanya kemitraan langsung dengan daerah produsen, risiko gangguan pasokan akibat faktor cuaca, distribusi, maupun lonjakan permintaan diharapkan dapat ditekan.
Di sisi lain, dinas teknis di bidang perdagangan mencatat bahwa maraknya coffee shop mencerminkan peningkatan permintaan di sektor kuliner yang dipicu oleh aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pariwisata. Banyak bangunan lama dan ruang usaha yang sebelumnya tidak produktif kini dimanfaatkan kembali sebagai kedai kopi dengan beragam konsep. Meski demikian, pemerintah daerah menilai kenaikan harga biji kopi tidak dapat dilihat sebagai satu-satunya faktor penyumbang inflasi. Berbagai variabel lain, seperti kondisi produksi nasional, distribusi, serta tren pasar juga turut memengaruhi pergerakan harga.
Dengan rencana holding UMKM coffee shop ini, pemerintah kota berharap tercipta keseimbangan antara pertumbuhan usaha, stabilitas harga bahan baku, dan pengendalian inflasi. Skema tersebut sekaligus diproyeksikan menjadi model penguatan UMKM berbasis kolaborasi yang relevan diterapkan di kota-kota lain dengan karakter ekonomi serupa.
RAT/NNA



