Hujan Berkepanjangan Hambat Produksi Brem UMKM Madiun hingga Tertunda Tiga Hari
Senin, 9 Maret 2026 | 07:33 WIB

LINK UMKM - Tingginya curah hujan yang terjadi dalam dua pekan terakhir berdampak langsung pada aktivitas produksi UMKM brem di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Para pengrajin mengaku proses pembuatan makanan khas daerah tersebut mengalami keterlambatan karena sangat bergantung pada sinar matahari untuk tahap pengeringan.
Pelaku UMKM brem di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, menyampaikan bahwa musim hujan menjadi kendala utama dalam menjaga kelancaran produksi. Proses penjemuran yang biasanya dapat diselesaikan dalam waktu singkat kini membutuhkan waktu jauh lebih lama. Kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan alur produksi hingga pengemasan tidak dapat berjalan sesuai jadwal normal.
Salah satu produsen brem menjelaskan bahwa pada saat cuaca cerah, penjemuran hanya memerlukan waktu sekitar empat jam. Namun, ketika intensitas hujan tinggi, proses tersebut bisa memakan waktu hingga tiga hari agar brem benar-benar kering. Pengeringan yang tidak sempurna dinilai berisiko menurunkan kualitas produk karena brem menjadi mudah rusak saat dikemas dan disimpan.
Menurut para pengrajin, kualitas menjadi pertimbangan utama sehingga mereka tidak berani mempercepat proses pengemasan jika kondisi brem masih lembap. Penundaan produksi dianggap sebagai langkah untuk menjaga standar mutu agar produk tetap layak dipasarkan ke luar daerah.
Sebagian pelaku UMKM memilih beradaptasi dengan menggunakan alat pengering atau oven sebagai alternatif pengganti sinar matahari. Penggunaan oven dinilai mampu mempercepat proses pengeringan sehingga produksi tidak tertunda terlalu lama. Dengan metode ini, brem dapat segera dikemas dan didistribusikan ke pasar.
Namun, penggunaan oven juga memiliki keterbatasan. Proses pengeringan tidak dapat dilakukan sekaligus dalam jumlah besar karena menyesuaikan kapasitas alat pemanas. Pengeringan harus dilakukan secara bertahap, sehingga tetap membutuhkan pengaturan waktu produksi yang lebih ketat dibandingkan saat menggunakan penjemuran alami.
Dalam satu kali proses produksi, jumlah bahan baku yang diolah dapat mencapai sekitar 1,5 kuintal ketan. Hasil produksi brem dari Desa Kaliabu telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Meskipun volume produksi tidak mengalami penurunan signifikan, pelaku usaha mengakui bahwa musim hujan membuat waktu pengerjaan menjadi lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor cuaca masih menjadi tantangan utama bagi UMKM berbasis pangan tradisional yang mengandalkan proses alami. Bagi UMKM Indonesia, kondisi ini menegaskan pentingnya inovasi teknologi sederhana dalam proses produksi agar usaha tetap berjalan stabil meskipun menghadapi perubahan iklim dan musim penghujan yang berkepanjangan.



